Aku, Luka, dan Proses Belajar Memaafkan


Namaku… ah, sebut saja aku seorang remaja 20 tahun yang sedang belajar berdamai dengan masa lalu. Banyak orang bilang usia 20 itu usia paling indah masa penuh mimpi, tawa, dan perjalanan menemukan diri sendiri. Tapi bagiku, usia 20 adalah titik di mana aku mulai benar-benar menghadapi luka yang sudah lama kupendam.


Aku anak broken home. Sejak aku masih duduk di bangku TK, rumah sudah bukan lagi tempat yang terasa seperti rumah. Ayah dan ibu memilih jalan masing-masing, dan aku akhirnya tinggal bersama kakek dan nenek. Waktu itu, aku terlalu kecil untuk benar-benar mengerti apa arti perpisahan, tapi aku bisa merasakannya kehilangan yang menyesakkan, rasa iri melihat teman-teman sebayaku pulang ke pelukan ayah dan ibu mereka.


Masa kecilku penuh dengan tanya.

“Kenapa aku yang harus begini?”

“Apa aku nggak cukup baik untuk dipertahankan?”


Pertanyaan-pertanyaan itu sering muncul tiap malam sebelum tidur. Nenek dan kakek sudah berusaha memberikan kasih sayang terbaik mereka, tapi tetap saja ada ruang kosong di hatiku yang tak bisa mereka isi. Rasanya seperti ada lubang yang terus menganga, dan aku tumbuh dengan membawa lubang itu ke mana-mana.


Di usia remaja, aku mulai marah. Marah pada ayah yang jarang datang menjenguk. Marah pada ibu yang seolah memilih kehidupan barunya tanpa aku. Marah pada diri sendiri karena merasa tidak berharga. Marah pada dunia karena kenapa aku harus dilahirkan dalam keluarga yang retak.

Tapi seiring bertambahnya usia, aku mulai lelah marah. Marah tidak pernah benar-benar membuatku tenang justru membuatku semakin hancur.


Perlahan, aku mulai belajar memaafkan.

Bukan karena mereka pantas dimaafkan, tapi karena aku berhak untuk bahagia.


Aku belajar melihat bahwa mungkin, orang tuaku juga manusia yang punya luka mereka sendiri. Mungkin keputusan mereka saat itu bukan untuk menyakitiku, tapi untuk bertahan hidup dengan cara mereka. Dan aku… aku tidak mau selamanya hidup dalam bayangan keputusan mereka.

Memaafkan, buatku, bukan berarti melupakan. Luka itu tetap ada, tapi sekarang aku mencoba menyiraminya dengan pengertian. Karena dari retakan itulah aku belajar menjadi lebih kuat, lebih peka pada perasaan orang lain, dan lebih menghargai arti kasih sayang.


Sekarang, di usia 20 ini, aku masih dalam proses. Ada hari-hari di mana luka itu terasa perih lagi, tapi ada juga hari di mana aku bisa tersenyum dan berkata,


“Terima kasih, masa lalu. Karena kamu, aku bisa tumbuh.”


Aku bukan anak kecil yang lagi duduk di sudut kamar sambil menangis bertanya “kenapa aku?”. Aku sedang belajar menjadi seseorang yang bisa berkata, “meski aku tumbuh dari retakan, aku tetap bisa mekar.” 

Komentar